Rangkaian Hari Raya Nyepi Umat Hindu se Kabupaten Buol
- account_circle admin
- calendar_month Sen, 16 Mar 2026

IDTIMES.co.id.|Buol – Pemandangan menyejukkan hati terlihat di pesisir Pantai Desa Bokat, Kecamatan Bokat, Kabupaten Buol pada Senin (15/3/2026).
Di tengah suasana khidmat umat Muslim menjalankan ibadah puasa Ramadan, warga umat Hindu se-Kabupaten Buol juga melaksanakan kegiatan yang merupakan rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 dengan penuh kedamaian.
Pesisir Pantai Desa Bokat yang biasanya ramai oleh aktivitas nelayan dan warga, hari itu tampak lebih tenang. Sejumlah 211 penari dari himpunan wanita hindu dharma se Kabupaten Buol meramaikan Hari Raya Nyepi.
Sejumlah persiapan ritual dilakukan dengan tertib oleh umat Hindu sebagai bagian dari rangkaian Catur Brata Penyepian, yakni amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan.
Meski dua momentum keagamaan ini berlangsung dalam waktu yang berdekatan, kehidupan masyarakat tetap berjalan selaras. Tidak terlihat adanya gesekan sosial.
Sebaliknya, rasa saling menghormati antar umat beragama justru semakin terasa di tengah masyarakat.
Kegiatan melasti tersebut dilaksanakan setiap tahunnya dengan tujuan membersihkan buana alit (diri) dan buwana agung (alam semesta).
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Buol, I Wayan Sudadnya, menyampaikan bahwa perayaan Nyepi bukan hanya tentang keheningan, tetapi juga momentum untuk introspeksi diri serta memperkuat keharmonisan dengan sesama manusia dan alam.
“Perayaan Nyepi adalah waktu bagi umat Hindu untuk melakukan perenungan diri, menata kembali pikiran, ucapan, dan perbuatan agar menjadi lebih baik. Kami juga sangat bersyukur karena masyarakat Buol, khususnya di Desa Bokat, selalu menjaga toleransi dan saling menghormati antar umat beragama,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Kabupaten Buol, Pinandita I Nyoman Sutama, yang menilai bahwa suasana damai di tengah masyarakat merupakan cerminan nilai-nilai luhur yang dijunjung bersama.
“Nyepi mengajarkan pengendalian diri dan kesucian batin. Ketika umat Muslim juga sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan, nilai-nilai yang dijalankan sebenarnya memiliki makna yang sama, yaitu menahan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Inilah yang membuat suasana kebersamaan terasa sangat kuat,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Buol, Ni Kadek Ayu Sinarwati, mengapresiasi peran perempuan dalam menjaga keharmonisan keluarga dan masyarakat selama pelaksanaan hari-hari besar keagamaan.
“Perempuan memiliki peran penting dalam menanamkan nilai toleransi sejak dari lingkungan keluarga. Kami berharap semangat kebersamaan ini terus dijaga sehingga generasi muda dapat tumbuh dalam suasana damai dan penuh penghormatan terhadap perbedaan,” katanya.
Di sisi lain, Ketua Paruman Walaka Kabupaten Buol yang juga Wakil Komisi I DPRD Buol serta Bendahara DPD Partai NasDem Kabupaten Buol, I Wayan Gara, menilai bahwa harmoni yang terlihat di Desa Bokat merupakan contoh nyata kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Buol adalah rumah bersama bagi seluruh masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Momentum Nyepi yang berdekatan dengan Ramadan ini justru menunjukkan bahwa masyarakat kita mampu menjaga kerukunan dengan sangat baik. Ini adalah kekuatan sosial yang harus terus kita rawat,” jelasnya.
Ia berharap agar tahun depan semua desa bisa mengikuti kegiatan tersebut, sebab tahun ini ada Desa Kalaka, Pinamula, dan Mooyong yang belum bisa bergabung dalam hajatan umat Hindu se Kabupaten Buol.
Pihak keamanan dari unsur TNI/Polri serta aparat desa turut memantau situasi untuk memastikan ibadah kedua belah pihak berjalan lancar.
Pembatasan aktivitas di area tertentu di sekitar pantai juga dilakukan guna menghormati kekhusyukan umat Hindu yang sedang melaksanakan ritual, tanpa mengganggu kenyamanan warga lainnya.
Peristiwa di Desa Bokat ini menjadi pengingat bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan budaya yang mempererat tali persaudaraan di Kabupaten Buol.
Semangat toleransi yang terjaga di tengah masyarakat menjadi contoh nyata bahwa kerukunan dapat tumbuh kuat ketika saling menghargai dijadikan sebagai nilai bersama.***
- Penulis: admin











Saat ini belum ada komentar