Di Balik Mega Proyek Gizi dan Pendidikan Yang Tertatih: Perut kenyang Otak Terasingkan | Idtimes
Breaking News
light_mode
Trending Tags

Di Balik Mega Proyek Gizi dan Pendidikan Yang Tertatih: Perut kenyang Otak Terasingkan

  • account_circle Admin
  • calendar_month Sel, 24 Feb 2026

Di Balik Mega Proyek Gizi dan Pendidikan Yang Tertatih: Perut kenyang Otak Terasingkan

 

Penulis : M. Jumandarsyah – Ketua Relawan Cerdas NTB

Penerbit: Hairil Qadri

 

Pendidikan kita hari ini adalah sebuah paradoks “Berjalan dengan kaki yang pincang, namun mengenakan sepatu yang sangat mahal”. Di satu sisi, negara menjanjikan “Makan Bergizi Gratis” (MBG) sebuah program mulia yang melesat pesat, program yang menelan anggaran fantastis Rp71 triliun pada APBN 2025 (dari total anggaran pendidikan) dan melonjak pesat pada APBN tahun 2026 yaitu sebesar 335 triliun, dipandang oleh banyak pihak belum menjawab akar persoalan utama pendidikan. Kritikus menyoroti bahwa uang tersebut seharusnya bisa lebih efektif jika digunakan untuk memperbaiki gaji guru honorer, rehabilitasi bangunan sekolah yang rusak, atau menyediakan akses internet di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). 

 

Barangkali inilah paradoks kita: sibuk menghitung porsi gizi, tetapi lalai mengukur ketimpangan. Pendidikan tak cukup diselamatkan oleh satu program, betapapun megahnya dan harus menuntut keberanian menata ulang prioritas agar anak-anak negeri ini tidak hanya tumbuh sehat secara fisik, tetapi juga berdiri setara dalam kesempatan. Sebab jika tidak, paradoks ini akan terus digaungkan tentang mimpi yang dipelihara setengah hati, dan masa depan yang dibangun dengan fondasi yang timpang. Isu pendidikan hari ini bukan hanya soal apa yang ditambahkan, tetapi apa yang terancam dikurangi. Ketika anggaran dipangkas dan prioritas dialihkan, sekolah-sekolah di daerah tertinggal sering menjadi yang pertama merasakan dampaknya. Guru, orang tua wali dan juga siswa kembali dihantui ketidakpastian, fasilitas perbaikan tertunda, dan transformasi digital menjadi jargon tanpa jaringan.

 

MBG: Nutrisi di Perut, Kekosongan di Kepala?

 

MBG adalah pemandangan di permukaan: piring-piring penuh makanan bergizi. Namun, di balik seragam sekolah yang bersih dan perut yang kenyang, kita lupa bertanya: Apakah ruang kelasnya sudah cukup membuat mereka betah? MBG berisiko menjadi kanibalisasi anggaran jika fokusnya hanya pada fisik, sementara infrastruktur dasar, buku, pena, dan ruang belajar yang layak dibiarkan merana. Di NTB, kita mendesak agar MBG memprioritaskan pangan lokal, namun tanpa perbaikan kualitas literasi dan sarana, kita hanya kenyang secara fisik tetapi lapar secara intelektual.

 

Lebih jauh lagi, persoalannya bukan sekadar soal niat baik, melainkan tentang desain besar pendidikan itu sendiri. Jika MBG menyerap anggaran dalam skala masif tanpa diiringi pembenahan ruang kelas, peningkatan kesejahteraan guru, serta distribusi buku dan akses digital yang merata, maka kita sedang membangun fondasi yang timpang. Anak-anak mungkin duduk dengan energi yang cukup, tetapi tetap belajar dalam sistem yang kekurangan arah dan dukungan. Di Nusa Tenggara Barat, masih ada sekolah yang bergulat dengan fasilitas minimum sebuah ironi ketika negara berbicara tentang generasi unggul dan daya saing global.

 

Pendidikan tidak bisa disederhanakan menjadi soal gizi versus literasi. Tetapi menuntut orkestrasi kebijakan yang utuh. Tanpa itu, MBG berisiko menjadi simbol yang kuat di permukaan, tetapi dangkal di akar. Kita tentu ingin anak-anak tumbuh sehat. Namun kita juga harus memastikan mereka tumbuh kritis, terampil, dan setara dalam keilmuan. Jika tidak, yang kita hasilkan hanyalah generasi yang kenyang hari ini, tetapi tetap kesulitan menulis masa depannya sendiri.

 

Jalan Setapak dan Nyawa di Ujung Pena

 

Lihatlah ke wilayah 3T di NTT dan NTB. Ada kisah memilukan tentang guru dan murid yang harus meniti jalan ekstrem yang rusak parah hanya untuk mencapai ruang kelas. Jalan yang rusak adalah simbol nyata betapa panjangnya jarak antara kebijakan di pusat dan realitas di tanah yang tandus. Tragedi memilukan di NTT contohnya, di mana seorang siswa SD nekat mengakhiri hidupnya hanya karena putus asa tak mampu membeli buku dan pena. Tragedi ini adalah tamparan keras, bukti bahwa ketika negara sibuk dengan megahnya infrastruktur fisik, ada nyawa kecil yang runtuh karena kemiskinan struktural yang di mana anggaran besar yang konon sepertiga-nya “dikanibalisasi” untuk MBG dan gagal menjangkau anak-anak paling rentan. Kasus bunuh diri ini yang mencapai angka mengkhawatirkan di NTT selama tahun 2025 adalah bukti bahwa sekolah belum menjadi ruang dialog yang aman bagi ketakutan anak. 

 

Bergeser ke NTB, wajah pendidikan kita masih berdebu. Ketika pusat sibuk dengan jargon digitalisasi, di pelosok NTB, sekitar 4.000 ruang kelas rusak masih menjadi pemandangan sehari-hari. Akses jalan yang hancur ke sekolah-sekolah terpencil bukanlah sekadar kendala fisik, melainkan dinding pembatas antara anak-anak NTB dengan masa depan mereka. Gubernur NTB mencatat ada puluhan ribu anak putus sekolah. Bayangkan, di tengah gegap gempita makan gratis, ada ribuan anak yang bahkan tidak bisa mencapai meja sekolah karena akses jalan yang memutus harapan mereka.

 

Rapor Merah di Tengah Harapan

 

Tahun 2025 menjadi saksi bisu betapa rapuhnya fondasi pendidikan kita, tercermin dari rapor merah hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang anjlok secara nasional. Di tengah narasi “Generasi Emas”, nilai matematika dan bahasa Inggris yang terjun bebas bahkan memicu polemik soal yang tak sinkron dengan materi di kelas, ini menjadi alarm keras bahwa kebijakan pendidikan seringkali gagap di tingkat akar rumput. Kebocoran soal dan kendala teknis TKA 2025 bukan sekadar isu teknis, melainkan menjadi cermin retak yang menunjukkan bahwa asesmen dipaksakan berjalan di atas ketimpangan infrastruktur dan metode pembelajaran yang masih tertinggal. Sementara itu, kita dipaksa menyaksikan ironi di mana kurikulum berubah arah, namun fasilitas di pelosok masih merintih, dan angka kekerasan di sekolah melonjak drastis. Inovasi digital seringkali hanyalah hiasan di atas kertas, sementara realitas di lapangan menunjukkan bahwa guru-guru berjuang sendirian tanpa dukungan kompetensi dan kesejahteraan yang memadai.

 

Harapan tidak boleh mati, namun “rapor merah” ini adalah alarm keras bahwa kita tidak sedang berlari, melainkan berjalan di tempat. Pendidikan harus dibebaskan dari permainan politik praktis dan diselamatkan dari komersialisasi, agar bangku sekolah kembali menjadi tempat persemaian kecerdasan, bukan sekadar pabrik ijazah. Saatnya menghentikan romantisasi kemajuan dan mulai melakukan langkah taktis yang konkret, karena masa depan bangsa tidak bisa dibangun di atas fondasi literasi yang rapuh dan ketidakadilan akses yang terus-menerus dibiarkan.

 

Sebuah Penutup: Menuntut Keadilan yang Utuh

 

Pendidikan bukan hanya soal memberi makan saja, tetapi memberikkan pengetahuan dan merawat jiwa serta kecerdasan. Jangan sampai kita melahirkan generasi yang kenyang, namun jiwanya rapuh dan pikirannya tertinggal. Pendidikan di NTB, NTT atau bahkan seluruh Indonesia menuntut lebih dari sekadar program musiman, menuntut keadilan sejati, jalan yang layak dilewati, buku yang bisa dibeli, dan sekolah yang layak, bukan membebani. Keadilan yang utuh berarti keberanian menata ulang prioritas. Bukan sekadar memastikan distribusi program berjalan rapi, tetapi memastikan setiap rupiah anggaran benar-benar menyentuh akar persoalan, pemerataan mutu guru, perbaikan infrastruktur sekolah, layanan kesehatan mental, hingga akses transportasi yang aman. Di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur adalah sebagai contoh tantangan pendidikan bukan cerita pinggiran tetapi ini adalah ujian nyata bagi komitmen negara terhadap konstitusinya sendiri.

 

Lebih dari itu, kita perlu berhenti memaklumi ketimpangan sebagai takdir geografis. Ketertinggalan bukan warisan alam semata, melainkan hasil dari kebijakan yang tak konsisten dan perhatian yang tak merata. Jika sekolah di kota bisa melompat dengan fasilitas lengkap dan akses digital stabil, maka sekolah di pelosok pun berhak atas standar yang sama bukan sekadar belas kasihan, tetapi hak yang dijamin. Pada akhirnya, pendidikan bukan proyek citra, melainkan proyek peradaban yang menuntut keseriusan melampaui masa jabatan dan popularitas. Jika keadilan itu tak sungguh ditegakkan, maka kita hanya akan mengulang siklus yang sama, generasi berganti, program berganti, tetapi ketimpangan tetap tinggal. Dan sejarah akan mencatat, bukan pada seberapa megah program diluncurkan, melainkan pada seberapa adil masa depan dibagikan.

 

Pendidikan adalah panggung masa depan, namun hari ini, pendidikan masih menjadi panggung ketimpangan.

 

 

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Izin Tiga Koperasi Tambang di Kayuboko Belum Efektif, DPMPTSP Sulteng Minta Tunda Aktivitas

    Izin Tiga Koperasi Tambang di Kayuboko Belum Efektif, DPMPTSP Sulteng Minta Tunda Aktivitas

    • calendar_month Sen, 23 Jun 2025
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    IDTIMES.co.id.|PALU – Tiga koperasi yang dimaksud yakni Koperasi Sinar Emas Kayuboko, Koperasi Kayuboko Rakyat Sejahtera, dan Koperasi Cahaya Sukses Kayuboko, telah memperoleh izin pertambangan secara administratif. Namun, Kepala DPMPTSP Sulteng, Moh. Rifani, menyampaikan bahwa seluruh aktivitas pertambangan harus ditunda hingga proses penandatanganan Berita Acara Penyerahan (BAP) selesai dilakukan. Menurut Rifani, langkah ini merupakan bagian dari […]

  • Muskab Padel Indonesia Morowali Tetapkan Tahir sebagai Ketua Umum Masa Bakti 2026-2030

    Muskab Padel Indonesia Morowali Tetapkan Tahir sebagai Ketua Umum Masa Bakti 2026-2030

    • calendar_month Rab, 10 Jun 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    IDTIMES.co.id|Morowali. Musyawarah Kabupaten (Muskab) padel Indonesia Morowali yang dilaksanakan hari ini, Selasa 09/06/2026 di Aula Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga,  menetapkan Tahir selaku Asisten I Bidang pemerintahan dan kesejahteraan rakyat sebagai Ketua Umum Padel Indonesia Kabupaten Morowali Masa Bakti 2026-2030. Muskab perdana ini menjadi momentum bersejarah atas terbentuknya kepengurusan resmi organsasi olahraga padel Indonesia Morowali […]

  • Berobat Gratis Itu Nyata! Program Unggulan BERANI Sehat Pilar Kesejahteraan Warga Sulteng

    Berobat Gratis Itu Nyata! Program Unggulan BERANI Sehat Pilar Kesejahteraan Warga Sulteng

    • calendar_month Sab, 2 Agu 2025
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    IDTIMES.co.id.|Palu – Program BERANI Sehat yang diluncurkan pada momentum HUT ke-61 Provinsi Sulteng adalah pilar kesejahteraan yang menghadirkan layanan kesehatan gratis bagi warga Sulteng. Dengan peruntukan program, warga yang belum memiliki jaminan BPJS Kesehatan atau kepesertaan non-aktif karena tak mampu lagi membayar iuran bulanan. “Jangan sampai ada masyarakat yang merintih kesakitan, tidak bisa berobat karena […]

  • Kodam XXIII/Palaka Wira Gelar Upacara Bendera Rutin sebagai Wujud Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

    Kodam XXIII/Palaka Wira Gelar Upacara Bendera Rutin sebagai Wujud Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

    • calendar_month Sen, 9 Feb 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    IDTIMES.co.id.|Palu – Kodam XXIII/Palaka Wira kembali menggelar upacara bendera rutin sebagai bentuk pembinaan tradisi dan penguatan nasionalisme prajurit serta Aparatur Sipil Negara (ASN), yang berlangsung di lapangan upacara Makodam XXIII/Palaka Wira, pada Senin (9/2/2026). Bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup) Kakesdam XXIII/Palaka Wira, Kolonel Ckm dr. Agus Hari Wahono, Sp.An., M.Kes. Upacara diikuti oleh para prajurit […]

  • Perkuat Posisi di Pilkada Buol, Naga Bonar Kembali Dapat Dukungan, Kali Ini Aliansi Bongkar!

    Perkuat Posisi di Pilkada Buol, Naga Bonar Kembali Dapat Dukungan, Kali Ini Aliansi Bongkar!

    • calendar_month Ming, 10 Nov 2024
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    IDTIMES.co.id.|Buol – Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Buol, Risharyudi Triwibowo (Bowo Timumun) dan Moh Nasir Daimaroto, semakin mendapatkan dukungan pada Pilkada Buol 2024. Kekuatan Politik di Pilkada 2024-2029 diperkuat setelah kembali mendapatkan dukungan penuh dari berbagai elemen masyarakat. Sebab, paslon dengan tagline Naga Bonar dapat perhatian dan dukungan dari Aliansi “Bongkar” (Bowo-Nasir Gerakan Kekuatan […]

  • Wagub Dorong Hari Lalampa dan Parigi Utara Expo 2025 Jadi Kalender Budaya di Sulteng

    Wagub Dorong Hari Lalampa dan Parigi Utara Expo 2025 Jadi Kalender Budaya di Sulteng

    • calendar_month Sab, 14 Jun 2025
    • account_circle 𝘔𝘰𝘩 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘴𝘺𝘢𝘩
    • 0Komentar

    IDTIMES.co.id.|PARIGI MOUTONG – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., menghadiri puncak perayaan Hari Lalampa ke-7 sekaligus penutupan Parigi Utara Expo (PUE) Festival ke-3 yang digelar meriah di Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Sabtu (14/6/2025). Dalam sambutannya, dr. Reny menyampaikan rasa hormat dan apresiasinya kepada seluruh panitia, tokoh masyarakat, tokoh adat, […]

expand_less